KEANEKARAGAMAN FAUNA DI SUAKA MARGASATWA PALIYAN GUNUNG KIDUL



KEANEKARAGAMAN FAUNA DI SUAKA MARGASATWA (SM)
 PALIYAN, GUNUNGKIDUL

     Suaka Margasatwa (SM) Paliyan merupakan kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman fauna yang tinggi, mencerminkan kekayaan hayati wilayah Gunungkidul. Keberadaan berbagai jenis satwa yang tersebar di kawasan ini menunjukkan pentingnya peran ekologis yang dimiliki oleh Paliyan, baik sebagai habitat alami maupun sebagai pusat pelestarian spesies. Beberapa jenis fauna yang membentuk keanekaragaman hayati di kawasan ini, beserta pola persebarannya, dijelaskan pada uraian berikut : 

A. Keanekaragaman Laba-Laba
     Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Meskipun demikian, keanekaragaman hayati dari kelas invertebrata dari spesies laba-laba masih jarang diteliti. Diketahui terdapat sekitar 48.300 spesies laba-laba di dunia dari 120 familia. Sedangkan di Indonesia tercatat 2526 spesies laba-laba dari 601 genus dan 64 familia. Familia dengan spesies terbanyak ialah Salticidae (657 spesies) diikuti oleh Araneidae (244 spesies), Sparassidae (162 spesies). Thomisidae (123 spesies), dan Theridiidae (121 spesies). Berdasarkan data tersebut, Indonesia memiliki sekitar 5% dari semua spesies laba-laba di dunia. Dikawasan Suaka Margasatwa Paliyan Gunungkidul dari data penelitian terbaru teridentifikasi ada 92 spesies laba-laba yang ditemukan dari beberapa lokasi titik penelitian yang terdiskripsikan pada gambar berikut : 
                                                Gambar 1. Peta lokasi penelitian Laba-laba

Ada 9 titik lokasi yang digunakan dalam penelitian. Dari kesembilan lokasi penelitian ditemukan 92 spesies dengan pola persebaran sebagai berikut :
 

No

Spesies

Makro Habitat

Mikro Habitat

1

Ogulnius sp.

Gua

Di sela-sela bebatuan

2

Smeringopus pallidus

Gua, Pemukiman

Bebatuan, gua, juga di area rumah

3

Loxosceles rufescens

Gua, Pemukiman

Gua, terkadang di dinding rumah

4

Campanicola sp.

Gua, Pemukiman

Di sela-sela bebatuan dan bangunan

5

Nesticodes rufipes

Gua, Pemukiman

Bebatuan

6

Zosis geniculata

Gua, Pemukiman

Bebatuan, gua, juga di area rumah

7

Langona sp.

Gua, Rumput

Bebatuan, pasir

8

Arachnura sp.

Hutan

Pepohonan

9

Gea sp.

Hutan

Di semak atau vegetasi rendah

10

Prasonica insolens

Hutan

Pepohonan

11

Cyrba ocellata

Hutan

Serasah hutan

12

Ariamnes sp.

Hutan

Membikin jaring di semak-semak dan pohon kecil

13

Chrysso sp.

Hutan

Dedaunan pohon

14

Paravixia dehaani

Hutan, Air

Di semak dan perdu sekitar sungai

15

Perenethis venusta

Hutan, Air

Semak dan vegetasi rendah

16

Cyclosa bifida

Hutan, Kebun

Di semak atau vegetasi rendah

17

Cyclosa camelodes

Hutan, Kebun

Di semak atau vegetasi rendah

18

Cyclosa insulana

Hutan, Kebun

Di semak atau vegetasi rendah

19

Cyrtophora exanthematica

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

20

Cyrtophora unicolor

Hutan, Kebun

Bambu-bambu

21

Eriovixia excelsa

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

22

Eriovixia laglaziéi

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

23

Eriovixia nigrocumulata

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

24

Eriovixia pseudocentrodes

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

25

Eriovixia sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

26

Gasteracantha kuhli

Hutan, Kebun

Di antara pepohonan

27

Poltys sp.

Hutan, Kebun

Pepohonan

28

Thelacantha brevispina

Hutan, Kebun

Pepohonan

29

Cheiracanthium sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

30

Nusatidia javana

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

31

Hitobia sp.

Hutan, Kebun

Bangunan penyimpanan air

32

Hersilia sundaica

Hutan, Kebun

Pada kulit pohon besar

33

Hypselistes sp.

Hutan, Kebun

Serasah hutan

34

Artabrus erythrocephalus

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

35

Eriovixia tenupis

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

36

Cosmophasis ombria

Hutan, Kebun

Semak

37

Cytaea sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

38

Gedea flavogularis

Hutan, Kebun

Kulit pohon, bebatuan, dinding rumah

39

Hyllus diardi

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

40

Myrmarachne ramosa

Hutan, Kebun

Semak dan pohon, umumnya tidak jauh dari koloni semut

41

Phintella bifurcilinea

Hutan, Kebun

Semak dan vegetasi rendah

42

Phintella vittata

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

43

Portia sp.

Hutan, Kebun

batang pohon kecil

44

Riene flavigera

Hutan, Kebun

Semak, pohon kecil, vegetasi rendah

45

Thyene imperialis

Hutan, Kebun

daun dan pohon kecil

46

Lecinage decorata

Hutan, Kebun

Semak dan pohon kecil

47

Lecinage fastigata

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

48

Mexcico sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pohon kecil

49

Tetragnatha chauliodus

Hutan, Kebun

Rumput tinggi, umumnya dekat perairan

50

Philoponella aper

Hutan, Kebun

Di tebing sungai, dibalik batu dan kayu

51

Argyodes fissifrons

Hutan, Kebun

Pada jaring Araneidae

52

Argyrodes flavescens

Hutan, Kebun

Pada jaring Araneidae

53

Chikunia sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

54

Diporo zhangri

Hutan, Kebun

Semak dan pohon kecil

55

Meotipa spiniventris

Hutan, Kebun

Semak dan pohon kecil

56

Nihonhimea mundula

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

57

Parasteatoda merapiensis

Hutan, Kebun

Di semak dan pepohonan, terkadang di bangunan

58

Pycrocoma sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

59

spheropistha sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

60

Steatoda nigroticulata

Hutan, Kebun

Serasah hutan

61

Ozyptila sp.

Hutan, Kebun

serasah

62

Philodamia sp.

Hutan, Kebun

Dedaunan dan batang pohon

63

Tmarus sp.

Hutan, Kebun

Daun dan pepohonan

64

Miagrammopes sp.

Hutan, Kebun

Daun dan semak

65

Uloborus sp.

Hutan, Kebun

Semak dan pepohonan

66

Asceua dispar

Hutan, Kebun

Batang pohon dan bebatuan,

67

Mallinella sp.

Hutan, Kebun

Batang pohon, bebatuan dan terkadang pada dedaunan

68

Dolichognatha sp.

Hutan, Kebun, Gua

Disela-sela bebatuan

69

Euryopis sp.

Hutan, Kebun, Gua

Serasah hutan dan bebatuan

70

Tylorida ventralis

Hutan, Kebun, Gua, Air

Semak, pepohonan, vegetasi rendah, bebatuan

71

Scytodes fusca

Hutan, Kebun, Gua, Pemukiman

Pada kulit pohon besar serta sela sela bebatuan dan bangunan

72

Scytodes sp.

Hutan, Kebun, Gua

Pada kulit pohon besar serta sela sela bebatuan dan bangunan

73

Cyrotrophora cicatrosa

Hutan, Kebun, Pemukiman

semak dan pepohonan

74

Neoscona theisi

Hutan, Kebun, Pemukiman

Semak atau vegetasi rendah

75

Nephila pilipes

Hutan, Kebun, pemukiman

Serasah hutan dan pepohonan, terkadang pada kabel listrik

76

Anaxibia plethrixoar

Hutan, Kebun, Pemukiman

Semak dan pepohonan

77

Hasarius adansoni

Hutan, Kebun, Pemukiman

Serasah hutan, juga di area rumah

78

Anahita sp.

Hutan, Kebun, Rumput

Serasah dan rerumputan

79

Bowie javanus

Hutan, Kebun, rumput

Serasah dan rerumputan

80

Oxyopes javanus

Hutan, Kebun, Rumput

Serasah hutan

81

Oxyopes javanus

Hutan, Kebun, Rumput

Semak dan rumput, melimpah di area budidaya

82

Oxyopes macilentus

Hutan, Kebun, Rumput

Semak dan rumput, melimpah di area budidaya

83

Bianor balius

Hutan, Kebun, Rumput

Tanah bekas danau dan serasah hutan

84

Evarcha bulbosa

Hutan, Kebun, Rumput

Semak, pepohonan, serasah

85

Harmochirus brachiatus

Hutan, Kebun, Rumput

Serasah hutan

86

Heteropoda martinae

Hutan, Kebun, Rumput

Serasah

87

Mastira sp. 1

Hutan, Kebun, Rumput

Semak atau vegetasi rendah

88

Mastira sp. 2

Hutan, Kebun, Rumput

Semak

89

Heteropoda venatoria

Hutan, Kebun, Rumput, Gua, Pemukiman

Serasah, bebatuan, pepohonan, seringkali di dekat pemukiman

90

Argiope appensa

Hutan, Kebun, Pemukiman

Semak dan pepohonan

91

Hippasa holmerae

Kebun, Rumput

Rerumputan di area terbuka

92

Oecobius concinnus

Pemukiman

Area rumah

                Tabel 1. Persebaran Laba-laba berdasarkan Makro habitat dan Mikro Habitat

     Berdasarkan tabulasi persebaran laba-laba yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa mikrohabitat dan makrohabitat saling berinteraksi dalam mempengaruhi keberadaan laba-laba. Mikrohabitat menyediakan kondisi khusus yang memungkinkan laba-laba untuk bertahan hidup dan berkembang biak, sementara makrohabitat menawarkan konteks ekosistem yang lebih besar yang mempengaruhi distribusi dan dinamika populasi laba-laba. Keberagaman mikrohabitat dalam suatu makrohabitat seringkali menentukan seberapa baik laba-laba dapat beradaptasi dengan lingkungan mereka. 
                                                  
B. Keanekaragaman Kadal, Cicak dan Ular 
     Kadal, ular, dan cicak merupakan anggota bangsa Squamata dari kelas Reptilia. Ketiga kelompok hewan reptil ini secara umum sering ditemukan di dalam maupun di sekitar kawasan hutan, khususnya di area yang memiliki ketersediaan sumber air. Bagi sebagian masyarakat, beberapa spesies dari kelompok ini terutama dari ular dan kadal sering dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan, bahkan tidak jarang untuk dikonsumsi. Suaka Margasatwa Paliyan sebagai salah satu kawasan konservasi di Gunungkidul memiliki keanekaragaman spesies reptil yang cukup tinggi, sehingga penting untuk terus diteliti dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar kontekstual berbasis potensi lokal. Adapun penggunaan lahan dan pembagian petak di SM Paliyan Gunungkidul terdeskripsikan pada gambar berikut : 

                         Gambar 2. Peta penggunaan lahan dan pembagian petak di SM Paliyan

     Dalam hal ini ada 6 petak yang diteliti untuk mengetahui keanekaragaman kadal, cicak dan ular pada kawasan suaka margasatwa paliyan gunung kidul yaitu petak 136, 137, 138, 139, 140 dan 141. Dari keenam petak memiliki perbedaan, yaitu: Petak 136 adalah area dengan aktivitas manusia tinggi, karena dekat dengan jalan raya dan merupakan letak kantor utama Resort Paliyan. Petak 137 adalah area dengan aktivitas manusia rendah, berupa padang rumput dengan danau yang memiliki vegetasi riparian. Petak 138 dan 139 adalah area hutan lebat dengan pepohonan tinggi dan kanopi rapat, serta tanpa genangan air. Petak 140 adalah area hutan terbuka, dengan aktivitas manusia pada waktu siang hari. Petak 141 adalah area padang rumput dengan danau kecil ditepi petak, danau tersebut dikelilingi banyak semak dan herba. Dari keenam petak ditemukan keanekaragaman kadal dari jenis Bronchocela jubata dan Draco volans. Keanekaragaman Cicak dari jenis Gehyra mutilata, Hemidactylus frenatus, Hemidactylus platyurus, dan Gekko gecko. Penemuan tokek dari jenis Cyrtodactylus semiadii sp.nov. Kemudian penemuan ular dari jenis Ptyas korros, Dendrelaphis pictus, Ptyas mucosus, Lycodon capucinus, Ahaetulla prasina, dan Trimeresurus albolabris. Adapun pola persebaran hasil temuan dan keanekaragaman spesies kadal, cicak, tokek, dan ular di kawasan tersebut, dapat dilihat pada gambar berikut :   

                               
Gambar 3. Nilai frekuensi keterdapatan (Fi) spesies kadal, cicak dan ular yang ditemukan di 6 petak SM Paliyan 

     Setiap penjumpaan kadal dan ular, kami tandai dengan GPS. Setiap titik koordinat penjumpaan kadal, cicak dan ular tersebut kemudian kami transfer ke peta untuk didapatkan data persebarannya. Dari peta persebaran kadal dan ular, dapat diketahui bahwa semua jenis ular yang dijumpai, berada di blok rehabilitasi (warna krem). Pada blok perlindungan (warna hijau) yang dipenuhi pepohonan rindang, hanya dijumpai sedikit kadal, cicak dan ular. Area blok perlindungan merupakan area perbukitan tanpa sumber air, baik berupa sungai maupun telaga, mungkin hal tersebut yang menjadikan sedikitnya penjumpaan kadal, cicak dan ular. Sedangkan pada blok rehabilitasi dijumpai banyak aliran sungai dan satu danau sebagai sumber air dan habitat bagi katak dan kodok sebagai salah satu mangsa utama ular. Adapun untuk peta persebarannya terdeskripiskan pada gambar berikut : 

                              Gambar 4. Peta persebaran kadal, cicak dan ular diarea SM Paliyan 

C. Keanekaragaman Katak 
     Katak merupakan salah satu hewan bioindikator dari baik buruknya suatu lingkungan. Secara alami katak menyukai habitat lembab, bersemak, terdapat genangan air dan berkanopi. Kulit katak tipis dan berlendir, menjadikan katak tidak mampu hidup di tempat panas dan kering, karena suhu yang panas dan kering akan menyebabkan dehidrasi hingga menyebabkan kematian. Apabila di lingkungan terdapat katak, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan tersebut relatif masih baik. Kehadiran katak mengindikasikan bahwa kualitas air dan udara berada dalam batas aman, vegetasi cukup memadai, dan ekosistem belum mengalami gangguan ekologis yang signifikan. Dengan demikian, katak berperan penting sebagai indikator biologis dalam memantau kesehatan dan keseimbangan suatu lingkungan. Dari data penelitian terbaru diketahui bahwa di suaka margasatwa paliyan gunungkidul memiliki 9 keanekaragaman katak yang diteliti dari 6 lokasi petak penelitian yaitu petak 136, 137, 138, 139, 140 dan 141 terdeskripsikan pada gambar berikut : 

  Gambar 5. Peta penggunaan lahan dan pembagian petak di SM Paliyan 

     Petak 136 mewakili area dengan aktivitas manusia tinggi, karena dekat dengan jalan raya dan kantor utama Resort Paliyan. Petak 137 mewakili area dengan aktivitas manusia rendah, berupa padang rumput dan adanya genangan air berupa danau dengan vegetasi riparian, yang merupakan habitat potensial bagi keberadaan katak dan kodok. Petak 138 dan 139 merupakan area hutan lebat dengan pepohonan tinggi dan kanopi rapat, tetapi tanpa genangan air. Petak 140 merupakan area hutan terbuka, dengan beberapa aktivitas manusia di sekitar area. Petak 141 merupakan area terbuka dengan danau kecil di dalamnya, serta banyak semak maupun herba di sekeliling danau. Dari keenam petak ditemukan keanekaragaman kadal dari jenis Duttaphrynus melanostictus, Ingerophrynus biporcatus, Fejervarya limnocharis, Kaloula baleata, Occidozyga lima, Occidozyga sumatrana, Microhyla orientalis, Microhyla palmipes, dan Polypedates leucomystax. Adapun pola persebaran penemuan dan keanekaragaman katak terilustrasikan pada gambar berikut :  

                                         
Gambar 6. Nilai frekuensi keterdapatan (Fi) spesies katak yang ditemukan di 6 petak SM Paliyan 

     Amfibi yang dijumpai di SM Paliyan cenderung mengumpul pada suatu titik tertentu. Amfibi banyak dijumpai di area dengan adanya genangan air, baik kolam, sungai kecil dan telaga. Selain itu, mereka dijumpai diantara pepohonan dan semak yang lebat. Pada Petak 136, amfibi yang dijumpai berada disekitar sungai kecil dan tegalan. Pada Petak 137, amfibi yang dijumpai mengumpul, yakni berada di dalam dan sekitar Telaga Ringin. Sekitar 6 jenis amfibi ada di Telaga Ringin. Pada Petak 138, amfibi dijumpai di sekitar tegalan, genangan air kecil atau kolam dan bebatuan. Pada Petak 139, amfibi yang dijumpai mengumpul di sekitar telaga, terdapat sekitar 5 jenis berada di tepian dan sekitar telaga. Pada Petak 140 hanya dijumpai 1 jenis amfibi dan berada di sekitar genangan air. Pada Petak 141, dijumpai 3 jenis amfibi. Dua jenis dijumpai di tepian Telaga Guwoklepu yang mulai mengering dan satu jenis berada di batang kayu wilayah ladang. Adapun untuk peta persebarannya terdeskripiskan pada gambar berikut : 

Gambar 7. Peta persebaran amfibi (katak dan kodok) di SM Paliyan


D. Keanekaragaman Burung 
     Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan terdiri dari petak 136 sampai petak 141 kawasan hutan BDH Paliyan, seluas 434,60 Ha. Luas hutan ini sebagian besar wilayah telah berubah menjadi peladangan masyarakat. Peladangan ini sudah ada sejak kawasan tersebut berstatus sebagai hutan produksi. Penambahan meningkat sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1997 dan mencapai puncaknya pada masa reformasi tahun 1998. Daerah Suaka Margasatwa Paliyan memiliki curah hujan rata-rata 2071mm/tahun dan curah hujan bulan basah 481 mm. 
     Suaka Margasatwa Paliyan merupakan hutan yang kaya akan flora fauna namun, seiring dengan masa reformasi tahun 1998 terjadilah penjarahan secara liar, yang mengakibatkan lahan menjadi rusak dan gersang. Kondisi tersebut berpengaruh besar terhadap keragaman dan habitat burung di Suaka Margasatwa Paliyan. Hal yang harus dilakukan adalah pengelolaan satwa burung dengan memonitor data keragaman burung. Adapun kawasan petak di SM Paliyan Gunungkidul terdeskripsikan pada gambar berikut : 

Gambar 8. Peta dan Petak Wilayah BKSDA PALIYAN DIY

Secara administratif pemerintahan, Suaka Margasatwa Paliyan masuk wilayah kecamatan Saptosari. Dari kawasan petak di SM Paliyan Gunungkidul yang telah terdeskripsikan pada gambar 8, pembagian lokasi petaknya terdeskripiskan pada gambar berikut : 

Gambar 9. Pembagian Wilayah Administratif Petak SM Paliyan 

Adapun untuk parameter kondisi geografis kawasan Suaka Margasatwa Paliyan dari keenam petak diatas terdeskripsikan pada gambar berikut : 
 
 Gambar 10. Parameter Kondisi Geografis Kawasan Suaka Margasatwa Paliyan  

Dari berbegai petak, parameter kondisi geografis, dan pengulangan pengamatan terhadap keanekaragaman burung mulai bulan Oktober sampai akhir Desember. Diperoleh hasil sebagai berikut : 
Gambar 10. Grafik Keragaman Jenis Burung di Suaka Margasatwa Paliyan

Adapun keunikan dan keanekaragaman jenis burung yang ditemukan dijabarkan secara rinci melalui keterangan dan gambar pada bagian berikut : 
  • Pengamatan Pertama
Pengamatan dilakukan sejak Oktober sampai akhir November saat sudah mulai memasuki muasim peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Adapun untuk kondisi keanekaragaman burung pada musim ini terdeskripsikan pada gambar berikut : 

Gambar 11. Keragaman jenis burang hasil pengamatan I
  • Pengamatan Kedua 
Pengamatan dilakukan sejak akhir November sampai awal Desember saat sudah mulai memasuki awal musim penghujan dengan kondisi suhu lingkungan 33 ° C. 

                                   Gambar 12. Keragaman jenis burang hasil pengamatan II
  • Pengamatan Ketiga 
Pengamatan dilakukan sejak akhir Desember saat sudah mulai memasuki awal musim penghujan dengan kondisi suhu lingkungan 30,2 ° C. 
                                    Gambar 11. Keragaman jenis burang hasil pengamatan III

Dari beberapa informasi diatas, apabila diamati dari pengamatan pertama sampai pengamatan ketiga dapat disimpulkan bahwa jumlah spesies burung yang ada di kawasan suaka margasatwa paliyan gunung kidul tercatat ada 22 spesies yang terdiri dari Bondol haji (Lonchura maja), Bondol jawa (Lochura leucogastroides), Cabe gunung (Dicaeum trochileum), Cabe hutan (Dicaeum concolor), Cinenen gunung (Orthotomus cucullatus),  Cinenen kelabu (Orthotomus rificeps), Ciu besar (Pteruthius flaviscapis), Gagak hutan (Corpus enca), Glatik batu (Parus major), Kacamata biasa (Zosterops palpebrusus), Kapasan (Lalege nigra),  Kutilang (Pycnonotus goiavier), Madu sriganti (Nectarinia jugularis), Bentet kelabu (Lanius schach), Prenjak belalang  (Locustella certiola), Prenjak coklat (Prinia polychoa), Prenjak gunung (Cettia vulcania), Prenjak kuning (Abroscopus superciliaris), Prenjak sisi merah (Prinia sublava), Puyuh (Turnix suscitator), Sikatan (Ficedula mugimaki), dan Trocokan (Pycnonotus aurigaster). Adapun pola persebarannya terdeskripsikan pada gambar berikut :    

Gambar 13. Jumlah Keseluruhan burung dari pengamatan 1-3 



Kesimpulan : 
Melalui keberagaman satwa seperti laba-laba, burung, kadal, ular, cicak, dan katak yang hidup di Suaka Margasatwa Paliyan yang telah disebutkan diatas, kita dapat memahami betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kawasan ini bukan hanya rumah bagi berbagai makhluk hidup seperti manusia, namun juga menjadi rumah dari beracam jenis fauna.




Sumber : 

Al Ghazil, M. I., Fathoni, A. S., Arfentri, C. W., Azizah, N. R. N., & Ali, R. N. (2024). preferensi habitat laba-laba di kawasan karst Suaka Margasatwa Paliyan. Biology Natural Resource Journal (BINAR), 3(1):20-27. Http://journal unirow.ac.id/index.php/biner/index

Shanti, U. R.(2021). keragaman jenis burung anggota ordo passeriformes di suaka margasatwa paliyan, gunung kidul, daerah istimewa yogyakarta pasca rehabilitasi. Borneo Jounal Of Science And Mathematics Education, https://journal.uinsi.ac.id/index.php/bjsme/index.

Yudha, D. S., Eprilurahman, R., Asti, H. A., Azhar, H., Wisudhaningrum, N., Lestari, P., Markhamah, S., & Sujadi, I. (2019). keanekaragaman katak dan kodok (amphibia: anura) di suaka Margasatwa Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta. Jurnal Biologi Udayana, 23(2): 59-67.

Yudha, D. S., Eprilurahman, R., Muhtianda, I. A., Asyrofi, H., Pratama, C. M. Y., Kusumardiastuti, Wajudi, & Widodo.(2022). keanekaragaman ular dan kadal (reptilia: squamata) di kawasan karst Suaka Margasatwa Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta. Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati, Vol. 7 (1): 19-27. https://ojs.uajy.ac.id/index.php/biota




Comments